Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2024

Lebih Baik Kaya Pandai Bersyukur atau Miskin Pandai Bersabar ?

Gambar
  Pertanyaan tentang lebih baik kaya pandai bersyukur atau miskin pandai bersabar memang menarik dan mendalam. Pilihan ini seringkali tidak hitam-putih, dan setiap orang memiliki pengalaman dan jalan hidup yang berbeda. Faktanya, kita dihadapkan pada sunnatullah dan qadarullah yang tak terduga, sehingga sikap kita dalam menghadapi situasi tersebut menjadi sangat penting. Kaya Pandai Bersyukur Ketika kita memiliki kekayaan, tanggung jawab kita adalah memanfaatkannya dengan bijak, berbagi dengan yang membutuhkan, dan tetap rendah hati. Bersyukur dalam kondisi ini membantu kita tetap berpijak di bumi dan menghargai berkah yang diberikan kepada kita. Contoh Kongkret : Seorang pengusaha sukses yang rutin berdonasi kepada yayasan-yayasan amal dan tetap hidup sederhana meskipun memiliki kekayaan berlimpah. Sudut Pandang : Orang kaya yang bijaksana, menggunakan kekayaannya untuk membantu orang lain dan tidak terbuai dengan kemewahan. Miskin Pandai Bersabar Di sisi lain, dalam kondisi kemis...

Mana yang lebih baik, diuji dengan kemiskinan atau diuji dengan kekayaan?

Mana yang lebih baik, diuji dengan kemiskinan atau diuji dengan kekayaan? Nabi kita, sesuai dengan maqom iman dan taqwa beliau, memilih hidup dalam kemiskinan. Kita sebagai umatnya, Alhamdulillah, tidak diberi pilihan seperti itu. Kita cukup menjalani peran masing-masing. Yang kaya : Silakan dermawan dan rendah hati sebagai bentuk syukur. Yang miskin : Silakan qonaah (merasa cukup) dan berbaik sangka sebagai bentuk sabar. Gampang, kan? (Secara teori) 😁 Memang, pertanyaan tentang mana yang lebih baik diuji dengan kemiskinan atau kekayaan adalah pertanyaan yang kompleks dan penuh dengan hikmah. Nabi kita memang memilih hidup miskin sesuai dengan maqam iman dan taqwa beliau, sebuah pilihan yang sangat berat namun penuh dengan keteladanan. Sebagai umatnya, kita diberi kemudahan untuk menjalani peran masing-masing sesuai dengan qadarullah. Kita tidak perlu memilih seperti Nabi, tapi cukup menjalani bagian kita dengan sebaik-baiknya: Untuk yang Kaya: Jadilah dermawan dan rendah hati sebaga...

Uhud atau Zuhud

Gambar
  Nabi kita diberi pilihan untuk menjadi orang yang sangat kaya dengan emas sebesar Gunung Uhud atau hidup zuhud dengan sehari makan dan sehari lapar. Beliau memilih untuk hidup zuhud. Jika saya dan kebanyakan orang disuruh memilih, pasti banyak yang langsung memilih kaya...hehehe. Tidak kuat dengan ujiannya. اَللَّــهُمَّ صَلِّ عَـلـٰى سَـيِّـدِنَـا مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَنَـبِـيِّكَ وَرَسُوْلِكَ نَبِى الْأُمِّـى وَعَــلـٰى أَلِـهِ وَصَحْبِهِ وَسِلِّـمْ "Allahumma shalli alaa Muhammadinin 'abdika wa rosulika nabiyyil ummi wa'alaa aalihii wa sallim." Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad, hambaMu, nabiMu, dan utusanMu yang ummi serta limpahkan pada keluarganya dan sahabatnya, juga limpahkan salam atas mereka." Memang luar biasa teladan dari Nabi kita yang memilih hidup zuhud dan sederhana meskipun memiliki pilihan untuk menjadi kaya raya. Beliau menunjukkan bahwa kebahagiaan dan ketenangan hati tidak tergantung pada harta,...