Cinta yang Terjaga dalam Waktu

 


Sore itu, seorang pria bernama Reza pulang ke rumah setelah hari yang melelahkan di kantornya, yang terletak di kawasan pusat bisnis Jakarta. Kini, Reza adalah seorang pengusaha sukses dengan perusahaan konstruksi yang berkembang pesat. Dulu, ia hanyalah seorang pekerja biasa yang selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, dan di setiap langkahnya, ia ditemani oleh Lestari, istrinya.

Lestari bukanlah wanita yang gemerlap atau penuh polesan mewah. Dia adalah wanita sederhana yang selalu setia mendampingi Reza sejak masa-masa sulit dulu. Kini, di usia pernikahan yang memasuki dua puluh tahun, Lestari terlihat lelah, tubuhnya tak lagi seperti dulu, dan wajahnya telah dihiasi garis-garis ketulusan. Di tengah godaan dan berbagai sosok glamor yang kerap menghampiri, Reza mulai merasakan keraguan akan pernikahannya. Pernah terpikir olehnya, apakah sudah waktunya melepas ikatan ini?

Suatu malam, dengan hati berat, Reza memutuskan untuk berterus terang kepada Lestari. Ia menyiapkan uang dalam jumlah besar di rekening Lestari, berharap itu bisa menjadi modal untuk hidup yang lebih baik tanpa dirinya. Dengan suara tenang dan dingin, ia menyampaikan keinginannya untuk berpisah. Lestari mendengarkannya tanpa berdebat. Hanya sorot matanya yang tajam dan penuh pengertian. Walau ia tak berbicara banyak, Reza tahu bahwa keputusan itu menyisakan luka mendalam.

Esok harinya, Reza berjanji akan membantu Lestari pindah ke rumah baru yang telah ia siapkan di kawasan lain. Namun, sebuah urusan mendadak membuatnya terlambat. Ketika akhirnya ia sampai di rumah, Lestari telah pergi. Di meja makan, ia menemukan buku tabungan yang telah ia berikan dan sebuah surat. Surat itu, yang pertama kali Lestari tulis untuknya, bagaikan pedang yang menembus relung hatinya.

“Mas Reza, aku sudah pulang ke kampung. Selimut sudah aku cuci dan jemur. Semua sudah aku taruh di lemari, kalau kedinginan nanti, pakailah selimut itu. Sepatu yang biasa kamu pakai sudah aku semir. Jika rusak, bawa saja ke tukang sol depan rumah. Kaos kaki dan kemeja kerja di lemari atas. Beras kesukaanmu aku sudah beli, ada di dapur, pastikan kamu makan teratur ya. Aku tahu, lambungmu sering sakit. Obat lambung sudah aku titipkan di meja sebelah, cukup untuk setengah tahun. Jangan lupa juga, kunci rumah sudah aku titipkan di Pak RT kalau suatu hari kamu lupa. Pangsit favoritmu ada di dapur, tinggal dipanaskan...”

Setiap kalimatnya membuat Reza sadar betapa dalam cinta yang selama ini ia terima. Tanpa disadari, air mata mulai jatuh di pipinya. Ia ingat masa-masa dulu, ketika Lestari kerap membawakannya makanan di lokasi proyek. Di sela-sela kesibukan, Lestari selalu hadir, menyemangatinya untuk terus maju.

Seketika, Reza tersadar betapa bodoh dirinya. Dengan cepat, ia berlari menuju stasiun, berharap dapat menemui Lestari sebelum keretanya berangkat. Sesampainya di sana, ia melihat Lestari yang tampak lelah, menunggu kereta menuju kampung halamannya.

Tanpa basa-basi, Reza menarik nafas dan, dengan suara tegas namun penuh cinta, ia berkata, “Lestari, kamu mau ke mana? Aku pulang kerja dan tidak ada nasi di rumah, istri macam apa kamu?” Ucapannya kasar, tapi Lestari tahu, di balik nada kerasnya, ada cinta yang tetap terjaga.

Dengan mata yang berkaca-kaca, Lestari mengikutinya pulang. Sepanjang perjalanan, Reza menyadari bahwa di balik semua yang telah ia capai, Lestari adalah tulang rusuk yang menjaga dirinya tetap utuh.

Kisah ini menjadi pengingat bagi Reza bahwa setia bukan hanya tentang bertahan saat tak punya apa-apa, tetapi tetap teguh ketika telah memiliki segalanya.

Pesan Moral :

Setiap pernikahan adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh tantangan. Saat seseorang berada di puncak, kesetiaan diuji dengan godaan yang lebih besar. Kesetiaan seorang istri diuji saat suaminya sedang tidak memiliki apa-apa, dan sebaliknya kesetiaan seorang suami diuji saat dia sudah memiliki segalanya.

Penulis : Suaeb Ansori 




Mau Order Sekarang ? Klik Tautan ini : https://skillpedia.id/?ref=6549


Mau lebih tahu tentang kami ? kunjungi website kami : www.bmsideal.com
Facebook : BMSI atau WhatsApp 085186001617


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamu adalah rata-rata dari 5 orang terdekatmu

Apa itu Lean Thinking ? Sistem 5S dan 6S ?

Insight Buku "Atomic Habits" Karya James Clear